Evolusi Upaya Pencegahan Tuberkulosis Global: Dari BCG hingga Vaksin Generasi Baru
Penulis: Jessica Febe Immanuela, S.KM.
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember Tahun 2019
jessicafebeimmanuelajob@gmail.com
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat global. WHO melaporkan TBC menempati urutan ke-13 penyebab kematian terbanyak di dunia sekaligus penyebab kematian menular tertinggi kedua setelah COVID-19, melampaui HIV/AIDS (World Health Organization, 2022).

Sumber: World Health Organization (2024)

Sumber: World Health Organization (2024)
Lebih dari 10 juta orang jatuh sakit setiap tahun, dengan satu kasus terdiagnosis setiap 29 detik. Pada 2023, tercatat sekitar 1,3 juta kematian atau satu kematian setiap empat menit. Beban ini lebih berat di negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk Indonesia yang menduduki posisi kedua setelah India. Estimasi kasus di Indonesia naik dari 824.000 pada 2021 menjadi lebih dari 1 juta pada 2022 dengan 134.000 kematian. Pemerintah menargetkan eliminasi TBC 2030 dengan menurunkan insidensi hingga 65 per 100.000 penduduk (Liza Munira et al., 2024). Target ini menghadapi kendala serius karena faktor risiko seperti kemiskinan, kepadatan hunian, merokok, malnutrisi, diabetes, HIV, dan konsumsi alkohol.

Vaksinasi telah terbukti menjadi intervensi paling efektif dalam pencegahan penyakit menular. WHO memperkirakan vaksinasi mencegah 3,5–5 juta kematian setiap tahun akibat penyakit seperti polio, campak, tetanus, dan difteri. Namun, keberhasilan ini belum tercermin pada TBC (World Health Organization, 2020). Satu-satunya vaksin yang tersedia, Bacillus Calmette-Guérin (BCG), ditemukan tahun 1921 oleh Albert Calmette dan Camille Guérin. Vaksin ini efektif mencegah bentuk TBC berat pada anak, terutama meningitis dan TBC milier, tetapi gagal memberikan perlindungan kuat pada remaja dan dewasa. Variasi efektivitas di berbagai wilayah membuat BCG tidak mampu menurunkan laju penularan komunitas meskipun cakupannya luas (Kementerian Kesehatan RI, 2025).
Keterbatasan tersebut mendorong pengembangan vaksin generasi baru. Salah satu kandidat menjanjikan, M72/AS01E, menunjukkan efikasi sekitar 50% dalam mencegah progresi infeksi laten menjadi TBC aktif pada dewasa dalam uji klinis fase II. Selain itu, pendekatan baru dengan platform subunit protein, viral vector, hingga mRNA tengah diteliti mengikuti keberhasilan vaksin COVID-19. Dari sudut pandang epidemiologi, vaksin baru diharapkan memberi perlindungan pada kelompok usia produktif yang berperan besar dalam penularan sehingga mampu menurunkan angka insidensi secara signifikan (Linda Bryder, 1999).

Meski hasil riset menunjukkan hal baik, implementasi vaksin baru menghadapi tantangan. Biaya riset tinggi, pendanaan terbatas, dan rendahnya prioritas TBC dibanding penyakit lain menjadi hambatan. Negara dengan beban TBC tinggi sering kekurangan infrastruktur imunisasi, rantai dingin, dan tenaga kesehatan, serta menghadapi kesenjangan akses layanan. Jika distribusi tidak diatur adil, vaksin berisiko hanya dinikmati negara maju, sedangkan populasi paling rentan tetap tertinggal.
Upaya ke depan perlu menempatkan vaksin sebagai bagian dari strategi komprehensif. Integrasi dengan investigasi kontak, terapi pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian faktor risiko sosial akan memperkuat dampak vaksin. WHO memproyeksikan vaksin dengan efektivitas moderat sekalipun mampu mempercepat penurunan insidensi bila digunakan luas. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi global, pendanaan berkelanjutan, serta kebijakan berbasis data untuk menjamin distribusi merata.

Sejarah BCG selama lebih dari satu abad membuktikan peran pentingnya, tetapi keterbatasan efektivitas menuntut inovasi. Vaksin generasi baru berpotensi menjadi game changer yang menekan insidensi dan mortalitas TBC, khususnya pada usia produktif. Keberhasilan pencapaiannya sangat bergantung pada kesiapan sistem kesehatan, dukungan pembiayaan, dan komitmen politik global untuk menjamin akses yang setara.
Ditinjau oleh: Andika, S.KM., M.Epid
Referensi
Kementerian Kesehatan RI (2025) Aksi Nyata Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia, kemkes.go.id.
Linda Bryder (1999) “We Shall Not Find Saalvation in Inoculation: BCG vaccination in Scandinavia, Britain and the USA, 1921–1960,” Elsevier: Social Science & Medicine, 49(9).
Liza Munira, S., Suriani Simarmata, O., Muhammad Noor Farid, M., Ariyati, R., Jusniar Ariati, M., Silalahi, A., Mardawaning Hanggarjita Elly Sardi Sam, Sk., Nabila Febby Yeni, S. and Agung Sudilaksono, S. (2024) Laporan Hasil Studi Inventori Tuberkulosis Indonesia 2023-2024.
World Health Organization (2020) Vaccines and Immunization, who.int.
World Health Organization (2022) Fact Sheet: Tuberculosis, who.int.
Tinggalkan Komentar