Banjir Tak Sekadar Genangan: Ancaman Diare di Tengah Krisis Iklim dan Pentingnya Penanggulangan Berbasis Lingkungan di Sumatera
Oleh: Oktiana, S.KM
Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lingkungan semata. Dampaknya kini nyata dan langsung mengancam kesehatan masyarakat. Salah satu konsekuensi yang semakin sering dirasakan di Pulau Sumatera adalah meningkatnya kejadian banjir. Penyimpangan pola hujan akibat perubahan iklim menyebabkan curah hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. Sungai meluap, pemukiman tergenang, dan aktivitas masyarakat terganggu. Namun, dampak banjir tidak berhenti pada kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi. Di balik genangan air, tersimpan risiko besar terhadap kesehatan lingkungan.
Banjir dan Risiko Penyakit Tular Air
Banyak di wilayah Sumatera, sistem sanitasi belum dirancang untuk menghadapi banjir ekstrem. Saat banjir terjadi, tangki septik yang tidak kedap air meluap dan mencemari lingkungan sekitar. Limbah tinja yang mengandung bakteri patogen, seperti Escherichia coli, dengan mudah masuk ke sumur gali dan sumber air bersih warga.
Air yang sebelumnya digunakan untuk minum dan keperluan rumah tangga berubah menjadi media penularan penyakit. Masyarakat yang terpaksa menggunakan air tercemar berada dalam jalur penularan fekal-oral, sehingga risiko diare meningkat secara signifikan setelah banjir. Fenomena ini menjelaskan mengapa kasus diare hampir selalu melonjak pasca-banjir. Semakin luas dan lama genangan air, semakin tinggi pula potensi pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit.
Masalah Kesehatan Lingkungan, Bukan Sekadar Medis
Penanganan diare pasca-banjir sering kali berfokus pada pengobatan, seperti pemberian oralit atau antibiotik. Padahal, pendekatan ini hanya bersifat sementara jika akar masalah lingkungannya tidak ditangani. Diare pasca-banjir merupakan persoalan kesehatan lingkungan yang erat kaitannya dengan sanitasi, kualitas air, dan perilaku masyarakat.
Tanpa perbaikan sanitasi dan pengelolaan air bersih, kejadian serupa akan terus berulang setiap musim hujan. Oleh karena itu, strategi pengendalian harus bergeser dari pendekatan kuratif menuju pencegahan berbasis lingkungan.
PHBS dan Inovasi sebagai Upaya Mitigasi
Penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci penting dalam pencegahan diare pasca-banjir. Namun, edukasi saja tidak cukup. Masyarakat membutuhkan solusi praktis yang dapat diterapkan dalam kondisi darurat. Penggunaan teknologi pemurnian air sederhana di tingkat rumah tangga, seperti tablet klorin, penyaring air, atau water-safe kit, terbukti mampu menurunkan risiko penyakit tular air. Selain itu, kebiasaan cuci tangan pakai sabun dan pengelolaan air minum yang aman harus terus diperkuat, terutama di lokasi pengungsian. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu mendorong pembangunan sanitasi yang tahan banjir, seperti tangki septik kedap air dan sistem drainase terintegrasi. Investasi ini bukan hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menjadi langkah preventif untuk mencegah krisis kesehatan di masa depan.
Perlu Sistem Peringatan Dini Kesehatan
Menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem, diperlukan pendekatan inovatif, termasuk pengembangan sistem peringatan dini kesehatan. Dengan memanfaatkan data cuaca dan kerentanan wilayah, potensi wabah diare pasca-banjir dapat diprediksi lebih awal sehingga langkah pencegahan bisa segera dilakukan.
Penutup
Banjir akibat perubahan iklim adalah tantangan yang sulit dihindari. Namun, dampak kesehatannya dapat diminimalkan melalui penguatan sanitasi, inovasi PHBS, dan kebijakan berbasis lingkungan. Tanpa upaya adaptif dan berkelanjutan, banjir akan terus menjadi pintu masuk krisis kesehatan baru, khususnya penyakit diare di wilayah Sumatera.
Daftar Pustaka
Daftara Pustaka
Ananda Br, D., Ananda BrSK, D., Asiyah Siregar, N., Fadlilatu Syahadah, R., Fiqhi Ranu Mahendra, A., Nurmairani Laoli, A., Apriadi Siregar, P., & Kesehatan Masyarakat, F. (2023). Gambaran Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare di Kawasan Risiko Banjir. Journal of Educational Innovation and Public Health, 1(3), 24–31. https://doi.org/10.55606/innovation.v1i3.1466
Artanto, M. K. P. A., Shafira, A. N., Pratama, S. H., & Affrita, T. M. (2024, October). Tinjauan Literatur: Analisis Penanggulangan Banjir terhadap Penyakit Diare di Indonesia. In Prosiding Seminar Nasional Kusuma (Vol. 2, pp. 294-304).
Lan, T., Hu, Y., Cheng, L., Chen, L., Guan, X., Yang, Y., Guo, Y., & Pan, J. (2022). Floods and diarrheal morbidity: Evidence on the relationship, effect modifiers, and attributable risk from Sichuan Province, China. Journal of Global Health, 12. https://doi.org/10.7189/JOGH.12.11007
Sholihah, Q., Kuncoro, W., Wahyuni, S., Puni Suwandi, S., & Dwi Feditasari, E. (2020). The analysis of the causes of flood disasters and their impacts in the perspective of environmental law. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 437(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/437/1/012056
World Health Organization (WHO). (2020). Climate change and health: Fact sheets. World Health Organization.
Tinggalkan Komentar