Info Komunitas
Senin, 25 Mei 2026
  • Selamat Datang di Portal Komunitas Penggiat Epidemiologi Indonesia
22 November 2025

Epidemiologi Campak: Gagal Capai Eliminasi?

Sabtu, 22 November 2025 Kategori : Penyakit Menular

Epidemiologi Campak: Gagal Capai Eliminasi?

Penulis:
Julhan Irfandi, S.K.M., M.K.M
Alumni Epidemiologi dan Biostatistik Universitas Sebelas Maret
julhanirf@gmail.com

Campak dan Imunisasi

Campak adalah salah satu penyakit menular yang sangat berbahaya dan dapat mengancam jiwa, terutama bagi anak-anak serta kelompok rentan. Penyakit ini disebabkan oleh virus Paramyxovirus yang ditularkan melalui percikan batuk, bersin, atau kontak dengan cairan pernapasan penderita. Anak-anak yang belum menerima vaksinasi lengkap berisiko tinggi terkena campak. Komplikasi serius yang mungkin terjadi meliputi pneumonia, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, infeksi telinga yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran, serta radang otak (ensefalitis) yang bisa menimbulkan kerusakan otak permanen bahkan kematian. Selain itu, komplikasi lain seperti sariawan, gangguan penglihatan, dan masalah pernapasan juga meningkatkan risiko kematian jika tidak segera ditangani.

Epidemiologi Campak: Gagal Capai Eliminasi?

Kelompok anak dengan kondisi khusus seperti gizi buruk, sistem kekebalan tubuh yang lemah misalnya akibat HIV atau gangguan autoimun serta bayi prematur, sangat rentan mengalami komplikasi serius. Risiko kematian pada kelompok ini lebih tinggi dibanding anak yang lebih besar. Selain komplikasi akut, terdapat juga risiko langka namun sangat serius, yaitu subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), sebuah penyakit progresif pada sistem saraf pusat yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak. SSPE umumnya terjadi pada anak yang terinfeksi campak di usia sangat muda, terutama di bawah dua tahun, dan menyebabkan gangguan fungsi otak yang berat serta berpotensi fatal. Pencegahan infeksi campak dan komplikasinya sangat bergantung pada vaksinasi, di mana anak-anak dianjurkan menerima vaksin campak mulai usia 9 bulan serta pemberian ulang sesuai jadwal yang direkomendasikan.

Sejak program vaksinasi massal dijalankan, kasus campak secdara global menurun drastis. Namun, eliminasi total belum tercapai karena masih terdapat disparitas cakupan imunisasi di berbagai daerah. Di Indonesia, situasi campak masih menjadi perhatian serius. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 5,2% balita pernah menderita campak secara nasional. Angka ini cukup tinggi dan jauh dari target eliminasi campak.

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak 2022 hingga awal 2025, terjadi lonjakan kasus campak secara signifikan di tanah air, dengan tercatat lebih dari 3.300 kasus dan empat kejadian luar biasa (KLB) pada pertengahan 2025 yang menyebar di 42 kabupaten/kota berbagai provinsi. Jawa Timur misalnya memiliki persentase balita dengan riwayat campak sebesar 4,7%, sedikit di bawah rata-rata nasional namun tetap menunjukkan adanya penyebaran virus campak di masyarakat. Situasi makin memprihatinkan di Pulau Madura, terutama di Kabupaten Sumenep, di mana prevalensi balita yang pernah mengalami campak tercatat sebesar 4,5% dengan cakupan imunisasi MR (Measles-Rubella) hanya 86,9%. Cakupan ini lebih rendah dibanding tingkat provinsi dan nasional yang masing-masing belum mencapai target minimal 95% yang dibutuhkan untuk pembentukan kekebalan kelompok. Rendahnya cakupan imunisasi di daerah ini menjadi penyebab utama terjadi nya Kejadian Luar Biasa, Sumenep sebagai pusatnya yang mencatat lebih dari 2.000 kasus dan 17 kematian anak yang berat akibat campak.

Konsep Herd Immunity

Berbagai faktor berkontribusi terhadap rendahnya cakupan imunisasi, termasuk kekhawatiran masyarakat tentang vaksin, penurunan layanan imunisasi selama pandemi COVID-19, serta kepedulian akan aspek kehalalan vaksin yang masih menjadi isu di kalangan masyarakat. Hal ini memperlihatkan keterkaitan langsung antara rendahnya cakupan imunisasi dengan peningkatan jumlah kasus campak, baik secara nasional, regional, maupun lokal. Konsep kekebalan kelompok atau herd immunity sangat penting dalam pengendalian campak. Karena campak memiliki angka reproduksi dasar (R0) yang tinggi, yakni antara 12 hingga 18, artinya satu orang yang terinfeksi dapat menularkan kepada 12-18 orang lainnya yang rentan. Agar penularan virus campak dapat dihentikan dan kelompok rentan seperti bayi serta penderita gangguan imun terlindungi, minimal 93-95% populasi harus memiliki kekebalan, baik melalui vaksinasi ataupun kekebalan alami.

Imunisasi MR yang efektif dengan tingkat keberhasilan sekitar 97% setelah dua dosis menjadi kunci pembentukan herd immunity ini. Namun, keberhasilan pembentukan kekebalan kelompok tidak hanya bergantung pada tingkat cakupan imunisasi secara nasional, tapi juga pada distribusi imunisasi yang merata di seluruh wilayah. Di daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah, rantai penularan virus campak masih berlanjut dan menyebabkan kejadian luar biasa (KLB).

Faktor-faktor yang mempengaruhi ini termasuk kepatuhan pada jadwal imunisasi, serta kendala sosial budaya seperti keraguan terhadap vaksin dan isu keagamaan. Ditambah lagi, pandemi COVID-19 memperburuk situasi dengan menurunkan cakupan imunisasi rutin yang berdampak pada melemahnya kekebalan masyarakat. Untuk mencapai eliminasi campak, diperlukan strategi komprehensif yang tidak hanya menyasar vaksinasi massal, tetapi juga pendekatan sosial budaya dan komunikasi risiko yang efektif. Upaya ini harus melibatkan edukasi dan sosialisasi yang intensif dengan peran aktif tenaga kesehatan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat guna mengurangi ketakutan dan kesalahpahaman terkait vaksinasi. Penguatan surveilans aktif juga penting untuk mendeteksi kasus secara dini, investigasi cepat, dan respons yang cepat melalui pemberian vaksinasi massal di wilayah terdampak.

Pengendalian campak harus dilakukan secara menyeluruh dengan langkah-langkah medis, sosial, dan sistemik, termasuk penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan anggaran, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan kasus real-time. Kolaborasi lintas sektor sangat vital, melibatkan organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, media, institusi pendidikan, dan sektor swasta agar cakupan imunisasi meningkat dan program pengendalian campak dapat berjalan optimal. Dengan pencapaian cakupan imunisasi MR rata-rata di atas 95% secara merata di seluruh daerah serta pendekatan komunikasi dan sosial budaya yang tepat, eliminasi campak di Indonesia dapat diwujudkan sehingga wabah dan kejadian luar biasa dapat diminimalisir dan akhirnya dihilangkan, melindungi anak-anak dan masyarakat luas dari ancaman penyakit yang berbahaya ini.

Demikianlah artikel Epidemiologi Campak: Gagal Capai Eliminasi? jangan lupa baca artikel terbaru lainnya pada link berikut ini::
Zoonosis dan Masa Depan: Mengapa One Health Jadi Kunci Indonesia
Eksposom, Planetary Health, dan Omics: Mengurai Hubungan Paparan Lingkungan dengan Penyakit Tidak Menular
Hidden Epidemic: Tantangan Mengungkap Kasus HIV Tersembunyi di Masyarakat

REFERENSI

  1. Alomedika – Epidemiologi Campak
    https://www.alomedika.com/penyakit/kesehatan-anak/campak/epidemiologialomedika
  2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Jakarta: BKPK Kemenkes RI.
  1. BBC Indonesia – Lonjakan Kasus Campak di Asia Tenggara dan Indonesia (Maret 2025)
    https://www.bbc.com/indonesia/articles/cly3g21vnknobbc
  2. BBC Indonesia – KLB Campak di Sumenep, Jawa Timur (Agustus 2025)
    https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvgn3y9m4nxobbc
  3. Tribunnews – Kemenkes: 46 Wilayah di Indonesia KLB Campak di 2025
    https://www.tribunnews.com/nasional/2025/08/26/kemenkes-46-wilayah-di-indonesia-klb-campak-di-2025-berikut-sebarannyatribunnews
  4. CNN Indonesia – Penyebaran Campak Rubela di Sumut, 12 Daerah Alami KLB (Agustus 2025)
    https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250803185554-20-1258232/penyakit-campak-rubela-merebak-di-sumut-12-daerah-alami-klbcnnindonesia
  5. Kanal Pengetahuan UGM – Menuju Indonesia Bebas Campak dan Rubela
    https://kanalpengetahuan.fk.ugm.ac.id/menuju-indonesia-bebas-campak-dan-rubela-2/kanalpengetahuan.ugm
  6. Antara News – Atasi Wabah, Kemenkes Segera Bawa Anak untuk Imunisasi Campak
    https://www.antaranews.com/berita/5064413/atasi-wabah-kemenkes-segera-bawa-anak-untuk-imunisasi-campakantaranews
  7. Kementerian Kesehatan – Strategi Komunikasi dan Imunisasi Nasional 2022-2025
    https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdfkemkes
  8. Kemenkes – Matangkan Strategi Imunisasi Nasional 2025-2029
    https://kemkes.go.id/id/matangkan-strategi-imunisasi-nasional-2025-2029-kemenkes-gelar-budget-dialoguekemkes

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pengumuman

www.epidemiolog.id

Take Your Epidemiological Skills to The Next Level

NSPN : Since March, 2019
Makassar-Manado-Minut
TELEPON 087884562567
EMAIL admin@epidemiolog.id
WHATSAPP 087884562567