Info Komunitas
Senin, 25 Mei 2026
  • Selamat Datang di Portal Komunitas Penggiat Epidemiologi Indonesia
29 September 2025

Menyingkap Determinan Epidemiologi Tuberkulosis Paru: Tantangan dan Solusi Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Senin, 29 September 2025 Kategori : Penyakit Menular

Menyingkap Determinan Epidemiologi Tuberkulosis Paru: Tantangan dan Solusi Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Penulis:
Nadilla Afril Alifah, S.KM
Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan, Peminatan Epidemiologi,
Universitas Bhakti Husada Indonesia. 2021
nadillaafrilalifah02@gmail.com

Pendahuluan

Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis terutama menyerang paru-paru. Penyakit ini menular melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Berdasarkan Global Tuberkulosis Report 2024, diperkirakan terdapat 10,8 juta kasus baru TB pada 2023. Indonesia menduduki posisi kedua tertinggi kasus TB setelah India, dengan menyumbang sekitar 10% dari total kasus global. angka ini menunjukkan bahwa TB bukan sekedar masalah medis, tetapi juga tantangan bagi kesehatan masyarakat, yang mempengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan komunitas.

Menyingkap Determinan Epidemiologi Tuberkulosis Paru
Gambar adalah properti @epidemiolog.id

Determinan Epidemiologi: Siapa yang Paling Rentan?

TB paru lebih rentan menyerang individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, malnutrisi, serta kelompok anak-anak dan lansia. Risiko ini juga meningkatkan pada lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi dan sirkulasi udara terbatas.selain itu, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan di beberapa daerah menghambat deteksi dini dan pengobatan TB, sehingga memperburuk penyebaran penyakit.

Selama pandemic COVID-19, pelaporan kasus TB menurun drastis akibat gangguan layanan kesehatan. Namun, angka kembali meningkat pada 2023 dengan lebih dari 1 juta kasus baru tercatat di Indonesia, naik dari sekitar 820.000 kasus pada 2020. Investigasi epidemiologi juga mengungkapkan masih ada kasus TB yang belum dilaporkan,dengan estimasi insiden TB mencapai 39 per 100.000 populasi.

Gambar adalah properti @epidemiolog.id

Determinan Perilaku: Kepatuhan dan Stigma

Keberhasilan pengobatan TB sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi minimal enam bulan. Secara global, keberhasilan pengobatan kasus TB sensitif obat adalah sekitar 68%. Di Indonesia, keberhasilan pengobatan tercatat sekitar 86,5%, masih di bawah target global 90%. Stigma sosial dapat memperburuk kondisi, banyak pasien menunda pengobatan karena takut dikucilkan, sehingga meningkatkan risiko penularan di keluarga dan komunitas. Edukasi masyarakat dan dukungan sosial sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan.

Determinan Lingkungan: Tubuh Sehat Butuh Ruang Sehat

Lingkungan fisik berperan besar dalam risiko penularan TB. Permukiman padat, ventilasi buruk, polusi udara, dan sanitasi rendah menciptakan kondisi ideal penyebaran Mycobacterium tuberculosis. Faktor sosial-ekonomi seperti pendapatan rendah dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan turut meningkatkan kerentanan terhadap masyarakat.

Gambar adalah properti @epidemiolog.id

Harapan ke Depan: Inovasi dan Aksi Terpadu

Pengendalian TB membutuhkan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah. Penemuan kasus secara aktif membantu pasien segera medapat pengobatan dan mengurangi risiko penularan. pendampingan pasien selama pengobatan penting untuk mecegah putus obat, sementara edukasi yang dapat mengurangi stigma sehingga penderita TB lebih terbuka mengenai kondisinya.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah memperbaiki lingkungan rumah dengan sirkulasi udara yang baik, pengurangan kepadatan hunian, dan akses layanan kesehatan yang lebih merata, mendukung keberhasilan pendendalian TB. Kombinasi langkah medis, sosial, dan lingkungan ini membuat target eliminasi TB pada 2030 mungkin bisa dicapai bila dilakukan bersama-sama.

Ditinjau oleh: Andika, S.KM., M.Epid

Referensi

1.     WHO. Global Tuberculosis Report 2024 [Internet]. World Health Organization; 2024 [cited 2025 Apr 29]. Available from: https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/379339/9789240101531-eng.pdf?sequence=1

2.     Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia’s Movement to End TB [Internet]. 2025 [cited 2025 Aug 25]. Available from: https:///kemkes.go.id/eng/indonesias-movement-to-end-tb

3.     Afrianto. Environmental and Behavioral Determinants of Tuberculosis: A Narrative Review. Sinergi: Jurnal Riset Kesehatan [Internet]. 2024 [cited 2025 Aug 25];14(2):123–35. Available from: https://journal.sinergi.or.id/index.php/jrkpk/article/view/673

4.     Sayifullah, Kustanto A, Ul-Haq J. Ecological Factors Influencing Tuberculosis in Indonesia: Exploring the Interplay of Health Resources, Socioeconomic Status, Climatic Factors, and Consumption Patterns. Journal of Population and Social Studies [Internet]. 2025 [cited 2025 Aug 25];33. Available from: https://so03.tci-thaijo.org/index.php/jpss/article/view/278919

5.     NN Juliasih, Sakinah LF, Sari RM, Winarso H, Siahaan SCPT, Gunawan EJ. Determinants of transmission prevention behavior among Tuberculosis patients in Surabaya, Indonesia. PubMed [Internet]. 2024 Sep 21 [cited 2025 Aug 25];6(4). Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39430813/

Jangan Lupa Baca Juga Artikel Lainnya berikut ini:

Leptospirosis: Ancaman Kesehatan Masyarakat saat Musim Banjir

Manis tapi Mematikan: Fakta di Balik Diabetes

Kamu Jarang Mencuci Tangan? Hati-Hati Bisa Meningkatkan Risiko Cacingan Hingga Kematian

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pengumuman

www.epidemiolog.id

Take Your Epidemiological Skills to The Next Level

NSPN : Since March, 2019
Makassar-Manado-Minut
TELEPON 087884562567
EMAIL admin@epidemiolog.id
WHATSAPP 087884562567