Hidden Epidemic: Tantangan Mengungkap Kasus HIV Tersembunyi di Masyarakat
Penulis:
Intan Ully Athalia Sihombing, SKM, M.Epid
Alumni Program Magister Epidemiologi FKM UI Tahun 2025
intanullyathalia.s@gmail.com
HIV/AIDS masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kompleks di dunia, termasuk Indonesia. Meski sudah ada terapi antiretroviral (ARV) yang efektif, epidemi ini belum sepenuhnya terkendali. Pada tahun 2023, UNAIDS mencatat sekitar 39 juta orang hidup dengan HIV, dan 9,2 juta di antaranya tidak mengetahui statusnya (UNAIDS, 2023). Kondisi ini disebut sebagai hidden epidemic—epidemi tersembunyi yang berjalan senyap tetapi memperpanjang rantai penularan.
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV kumulatif hingga Desember 2023 mencapai 526.841 kasus, dengan AIDS sebanyak 146.065 kasus (Kemenkes RI, 2023). Namun, angka ini diyakini belum mencerminkan kasus sebenarnya karena masih banyak orang yang belum terdiagnosis. Rendahnya angka deteksi ini menjadi salah satu hambatan terbesar Indonesia untuk mencapai target global 95-95-95 pada tahun 2030.
Kondisi lain yang memprihatinkan adalah cakupan tes HIV pada ibu hamil masih rendah di beberapa daerah, sehingga risiko penularan dari ibu ke anak tetap menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian epidemi ini.

HIV masih sering dikaitkan dengan perilaku yang dianggap “menyimpang”, seperti hubungan sesama jenis, pekerja seks, atau penggunaan narkoba suntik. Stigma ini membuat banyak orang takut melakukan tes HIV karena khawatir dikucilkan. Studi Chan et al. (2022) menemukan bahwa stigma sosial merupakan faktor utama rendahnya tingkat tes HIV di negara-negara Asia.
HIV pada tahap awal sering kali tanpa gejala, atau hanya menunjukkan tanda ringan seperti demam, kelelahan, atau ruam kulit. Kondisi ini membuat orang tidak menyadari dirinya terinfeksi hingga penyakit sudah masuk ke tahap lanjut.
Walaupun program VCT (Voluntary Counseling and Testing) sudah diperluas, belum semua daerah memiliki akses mudah ke layanan ini. Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2022, hanya sekitar 60% Puskesmas yang menyediakan layanan tes HIV. Daerah pedesaan dan terpencil menjadi wilayah yang paling rentan karena keterbatasan tenaga kesehatan dan fasilitas.
Survei nasional menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan komprehensif tentang HIV di kalangan remaja dan dewasa muda masih rendah. Banyak yang menganggap HIV hanya terjadi pada kelompok tertentu, padahal setiap orang dengan perilaku berisiko berpotensi tertular.

Individu yang tidak mengetahui status HIV-nya tetap dapat menularkan virus ke pasangan seksual atau anaknya. Tanpa intervensi, hidden epidemic akan terus mendorong kasus baru.
WHO (2021) menegaskan bahwa memulai terapi ARV lebih awal menurunkan mortalitas hingga 53%. Namun, jika diagnosis terlambat, pasien sudah dalam kondisi klinis buruk, sehingga efektivitas terapi menurun.
Kasus HIV yang tidak terdiagnosis berkontribusi pada meningkatnya beban infeksi oportunistik, rawat inap, dan pembiayaan kesehatan. Menurut data BPJS, pembiayaan penyakit terkait HIV/AIDS menelan biaya ratusan miliar rupiah setiap tahunnya.

Epidemiolog memiliki peran penting dalam mengungkap epidemi HIV yang tersembunyi. Melalui surveilans berbasis data, pemanfaatan laporan klinis, laboratorium, dan catatan lapangan untuk memetakan daerah dengan prevalensi HIV tinggi serta tingkat deteksi yang masih rendah. Selain itu, epidemiolog berperan dalam contact tracing dan partner notification, yaitu menelusuri pasangan maupun kontak berisiko dari pasien HIV untuk mempercepat deteksi kasus baru. Penelitian perilaku dan sosial juga menjadi bagian penting, karena dapat menggali hambatan stigma, perilaku berisiko, serta kesenjangan akses layanan kesehatan. Semua temuan ini kemudian digunakan sebagai dasar advokasi kebijakan, agar pemerintah dapat memperluas layanan tes, meningkatkan ketersediaan terapi ARV, serta memastikan layanan kesehatan bebas diskriminasi.
Ditinjau oleh: Andika, S.KM., M.Epid
Demikianlah Artikel Hidden Epidemic: Tantangan Mengungkap Kasus HIV Tersembunyi di Masyarakat, Jangan Lupa Baca Artikel lainnya berikut ini:
Evolusi Upaya Pencegahan Tuberkulosis Global: Dari BCG hingga Vaksin Generasi Baru
Menyingkap Determinan Epidemiologi Tuberkulosis Paru: Tantangan dan Solusi Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Leptospirosis: Ancaman Kesehatan Masyarakat saat Musim Banjir
Tinggalkan Komentar