Eksposom, Planetary Health, dan Omics: Mengurai Hubungan Paparan Lingkungan dengan Penyakit Tidak Menular
Izzania Zahara Nurdiansyah, S.KM
Alumni FIK Universitas Udayana Tahun 2020
izzazhrnrd15@gmail.com
Epidemiologi lingkungan memegang peran penting dalam memahami bagaimana faktor eksternal yang dapat memengaruhi kesehatan seseorang. Salah satu konsep yang menjadi sorotan adalah keseluruhan paparan lingkungan yang dialami individu sepanjang hidupnya, mulai dari polusi udara, bahan kimia, hingga gaya hidup sehari-hari. Konsep ini memperluas cara pandang kita terhadap hubungan antara lingkungan dan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, kanker, maupun penyakit kardiovaskular. Dengan artian lingkungan tempat kita tinggal juga memiliki peran yang penting terhadap tubuh manusia, dan disinilah konsep eksposom hadir.
Eksposom adalah seluruh paparan yang diterima oleh tubuh manusia sepanjang hidup sejak dalam kandungan hingga dewasa. Wild (2005), menjelaskan bahwa eksposom mencakup tiga dimensi utama yang terdiri dari paparan eksternal yang mencakup polusi, iklim, sosial-ekonomi. Kedua, paparan eksternal spesifik seperti bahan kimia, pola makan dan aktivitas fisik. Ketiga, paparan internal seperti biological marker (biomarker) dalam tubuh. Seperti halnya manusia dengan lingkungan, eksposom dan PTM juga memiliki hubungan yang erat. Seperti polusi udara yang dapat meningkatkan risiko gagguan pernapasan, paparan pestisida dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan kanker, pola makan tinggi gula dan rendah serat dapat meningkatkan risiko diabetes, dan adanya urbanisasi yang memicu tantangan kehidupan baru seperti paparan zat baru, perubahan gaya hidup dan stres yang dapat memicu peningkatan faktor risiko PTM.

Sumber: State of Global Air, HEI 2024.
Health Effects Institute (HEI) menyatakan bahwa polusi udara berkontribusi dalam tingginya angka mortalitas yang disebabkan oleh gangguan sistem pernapasan dengan proporsi sebagai berikut, 30% kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah, 28% kematian akibat penyakit jantung iskemik, dan 48% kematian akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Sumber: Our World in Data, 2024.
Terlepas dari faktor risiko yang memengaruhi sebuah studi epidemiolgi juga mencatat kematian terbesar disebabkan oleh penyakit kardiovaskular dengan proporsi sebesar 28,6%. Tidak hanya itu, WHO (2017) memperkirakan terdapat sekitar 24% kematian global berkaitan langsung dengan faktor lingkungan.
Data tersebut telah menjelaskan betapa tingginya isu lingkungan yang berdampak pada tingginya prevalensi gangguan pernapasan yang tergolong dalam PTM. Berbagai studi menunjukkan bahwa paparan polutan seperti partikel halus (PM2.5), ozon, maupun asap biomassa berkontribusi terhadap timbulnya inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi asma maupun PPOK. Fenomena ini mempertegas bahwa krisis lingkungan bukan sekedar isu ekologi, melainkan juga masalah kesehatan global yang nyata karena menambah beban PTM yang sebelumnya lebih banyak diasosiasikan dengan faktor gaya hidup. Dengan demikian, memahami keterkaitan antara degradasi lingkungan dan meningkatnya penyakit pernapasan menjadi langkah penting untuk merumuskan strategi pencegahan dan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih efektif. Dalam konteks ini pendekatan planetary health dan kemajuan ilmu omics menjadi sangat relevan. Planetary health memberikan kerangka berpikir yang melihat bahwa kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan, sehingga polusi udara, perubahan iklim, dan degradasi ekosistem harus dipahami sebagai determinan penting bagi meningkatnya PTM, termasuk gangguan pernapasan.

Sumber: Rappaport, S. M., & Smith, M. T. (2010).
Di sisi lain, pendekatan omics memungkinkan para peneliti untuk menelusuri bagaimana paparan lingkungan tersebut memengaruhi tubuh pada tingkat molekuler, misalnya melalui aktivasi jalur inflamasi, perubahan epigenetik, atau biomarker stres oksidatif yang berhubungan dengan asma maupun PPOK. Integrasi keduanya tidak hanya memperjelas hubungan sebab-akibat antara kerusakan lingkungan dan kesehatan pernapasan, tetapi juga membuka peluang untuk deteksi dini, pencegahan yang lebih tepat sasaran, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti dalam menurunkan beban PTM di taraf global.
Sehingga kesimpulannya adalah isu lingkungan global yang semakin hari semakin meningkat terbukti berperan besar dalam mendorong tingginya prevalensi PTM, khususnya gangguan pernapasan kronis. Dengan adanya pendekatan planetary health menegaskan bahwa kesehatan manusia bergantung pada keberlanjutan lingkungan, sementara kemajuan ilmu omics memberikan pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme biologis yang terjadi akibat paparan lingkungan. Sinergi keduanya membuka jalan bagi deteksi dini, pencegahan yang lebih efektif, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti untuk menekan penurunan beban PTM di masa mendatang.
Ditinjau oleh: Andika, S.KM., M.Epid
Referensi:
Tinggalkan Komentar