Pentingnya Integrasi Data Registrasi Kanker Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Kanker
Penulis:
Krida Tri Wahyuli, S. Tr RMIK
Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan – Universitas Gadjah Mada 2022
kridatw@gmail.com
Kanker menjadi penyakit katastropik dengan perawatan yang memakan waktu dan biaya sehingga diperlukan optimalisasi pelayanan di fasilitas kesehatan. Selain berdampak terhadap beban pada sistem kesehatan, kanker juga memiliki dampak finansial pada pasien dan penyintas kanker. Pada tahun 2024 tercatat bahwa kanker menyebabkan kematian sekitar 9,7 juta orang atau 18,7% dari seluruh kematian di seluruh dunia pertahun (Kemenkes, 2024).
Berdasarkan hasil evaluasi implementasi registrasi kanker dan kesadaran akan pentingnya Population Based Cancer Registry (PBCR) dalam menyediakan data yang lebih representatif, inisiatif PBCR menjadi salah satu strategi prioritas dan dilakukan melalui implementasi pilot di Provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta untuk tahun 2024-2025. Untuk mendukung penerapan PBCR, diperlukan dukungan berupa integrasi data yang sistematis dan penggunaan teknologi informasi yang memadai.
Registrasi kanker didefinisikan sebagai sistem pengumpulan, penyimpanan, analisis dan interpretasi data tentang pasien kanker (Kemenkes, 2024). Data yang dikumpulkan mencakup informasi klinis, demografis dan epidemiologis yang diperlukan untuk mendukung perencanaan dan evaluasi program pencegahan dan pengendalian kanker. Saat ini sudah terdapat 14 rumah sakit pelaksana registrasi kanker (Kemenkes 2024). Terdapat dua tipe sistem registrasi kanker yang diterapkan secara global, yaitu Hospital-Based Cancer Registry (HBCR) atau registrasi kanker berbasis rumah sakit dan Population-Based Cancer Registry (PBCR) atau registrasi kanker berbasis populasi.
Registrasi kanker berbasis rumah sakit atau HBCR adalah pengumpulan data dari pasien yang dirawat di rumah sakit tertentu, termasuk informasi data diagnosis, perawatan, dan hasil pengobatan pasien. Sedangkan registrasi kanker berbasis populasi atau PCBR adalah registrasi kanker yang dilakukan dalam suatu populasi di area geografik tertentu (Jogja Cancer Registry, 2017). Sistem PBCR mengumpulkan data dari semua kasus kanker dalam populasi tertentu, biasanya dalam wilayah geografis tertentu dan memberikan informasi yang lebih komprehensif tentang insiden kanker, kesintasan dan faktor risiko di tingkat populasi yang bermanfaat sebagai landasan dalam penyusunan perencanaan penanggulangan kanker di suatu negara (Kemenkes, 2024).
Penginputan data kanker di rumah sakit melalui dua sistem yaitu Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan Canreg5 (Cancer Registry 5). Kondisi ini mengakibatkan petugas rumah sakit melakukan repetisi kerja dalam proses penginputan manual data kanker karena kedua sistem belum terintegrasi. Data dari fasilitas kesehatan kemudian akan diinput secara manual oleh tim PBCR provinsi untuk menghasilkan laporan PBCR tingkat provinsi. Laporan tersebut dikirimkan ke Pusat Kanker Nasional di RS Dharmais untuk dilakukan penentuan kebijakan. Kondisi ini mengakibatkan lamanya proses pelaporan dan memungkinkan terjadi kesalahan input karena keterbatasan ketelitian manusia. Lamanya durasi penyelesaian registrasi kanker tersebut berdampak pada keterlambatan penentuan kebijakan strategis kasus kanker.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kemenkes melalui Digital Transformation Office (DTO) sedang mempersiapkan wadah untuk mengintegrasikan seluruh data-data input melalui platform SATUSEHAT untuk menuju Registrasi Kanker Berbasis Populasi yang ideal. Melalui integrasi data ini diharapkan seluruh data dapat terintegrasi. Berikut adalah alur pengembangan standar variabel registrasi kanker terintegrasi SATUSEHAT:

Gambar 1. Alur Pengembangan Registrasi Kanker Terintegrasi Melalui SATUSEHAT
Sumber: Kemenkes, 2024
Untuk mendukung penerapan PBCR, diperlukan dukungan berupa integrasi data yang sistematis dan penggunaan teknologi informasi yang memadai, misalnya penerapan e-MR (Electronics Medical Record) di seluruh rumah sakit, puskesmas dan seluruh fasilitas kesehatan lainnya di wilayah implementasi.
Integrasi data registrasi kanker berperan penting untuk mengendalikan kasus kanker. PBCR akan menghasilkan data kanker yang representatif sehingga mempermudah dalam pengambilan kebijakan pengendalian kanker secara tepat. Saat ini inisiatif PBCR menjadi salah satu strategi prioritas nasional. Melalui platform SATUSEHAT diharapkan data kanker di seluruh wilayah dapat terintegrasi sehingga terwujud PBCR yang lengkap dan akurat.
Ditinjau oleh : Andika, S.KM., M. Epid
Referensi:
Jogja Cancer Registry. (2017). Registrasi Kanker Berbasis Populasi. Diakses dari https://canreg.fk.ugm.ac.id/tentang-kami/registrasi-kanker-berbasis-populasi/ pada 8 Juli 2025 pukul 13.41 WITA.
Kemenkes RI. (2024). Rencana Kanker Nasional 2024-2025. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jangan lupa baca artikel lainnya berikut ini:
Epidemiologi Penyakit GERD : Berpengaruhkah Terhadap Puasa Ramadhan?
Tinggalkan Komentar